Jauhkan fatamorgana di mataku
Mengapa aku berpaling dari tatapan pada fatamorgana
Karena aku tak ingin terperangkap dari segala duka lara
Aku telah membaca semesta yang tertulis di lembaran kehidupan
bahwa garis nasibku terikrarkan pada poros usia
Maka, tak ada pilihan lain aku meski berjalan
Dan terus berjalan
Menuju larat yang paling penghabisan
Dimana efitap rampungan segala jejak-jejak yang telah terjejak
Dan mengikhlaskan semua napas yang dihembuskan
Dikembalikan pada sumbernya
Demikian aku tak akan pernah lagi mengenang di mana aku
jadi musafir kala mengarung dunia pana ini
kecuali membungkus tulang belulangku dengan asmamu.
bbaru, 2008
Minggu, 23 November 2008
Nur Lam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

3 comments
suka puisi juga yaa.
mungkin bisa di bilang puisi adalah bagian dari hidup aku.
kaka sendiri ngapai bengong?
Posting Komentar